Selasa, 03 November 2015

Sistem indera (Resume)



Nama                                                  : Ana Maulida
Npm                                                    : 3061324008
Semester                                            : V (lima)
Mata Kuliah                                      : Anatomi Fisiologi Manusia
Dosen Pengampu                               : Nana Citrawati Lestari, S.Si, M.Pd
Judul Buku                                        : Serasi Biologi
Nama Penulis                                     : Solikhin
Tahun Terbit                                     : 2011
Nama Penerbit                                   : Solikhin
Kota Penerbit                                   : Banjarmasin
Jumlah total halaman buku              : 102 HALAMAN
Jumlah halaman                                 : 63-68 HALAMAN

Sistem Pengindraan


Sistem indra berfungsi sebagai penerima rangsangan baik dari dunia luar maupun dari dalam tubuh. Setiap indra memiliki reseptor ( kumpulan dendrit ) berfungsi sebagai penerima rangsang. Rangsang (informasi) sampai ke resptor akan diterima dan diteruskan oleh saraf sensorik ke sistem saraf pusat yaitu otak dalam bentuk implus listrik. Implus yang sampaik ke otak diolah menjadi sebuah sensasi, sehingga otak dapat mengenali rangsangan dari lingkungannya ( dari luar atau dalam tubuh ).
Berdasarkan hasil rangsng, reseptor dibedakan menjadi dua yaitu eksteroreseptor  yang mendeteksi perubahan lingkungan luar dan interoreseptor yang mendeteksi perubahan lingkungan dalam tubuh misalnya nyeri, kadar oksegen atau karbondioksida, kadar glukosa, dan sebagainya. Eksteroreseptor ada lima macam yaitu mata (indra penglihat), telinga (pendengar), hidung (pembau), kulit (peraba), dan lidah (pengecap). Interoreseptor terdapat diseluruh tubuh misalnya pada otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, pernapasan, pembuluh darah, dan sebagainya. Berdasarkan jenis rangsangan yang diterima, reseptor dibedakan menjadi 6 macam yaitu:
1.     Mekanoreseptor
2.     Termoreseptor
3.     Kemoreseptor
4.     Fotoreseptor
5.     Statoreseptor
6.     Fonoreseptor
Sistem indra memiliki fungsi :
-        Sebagai alat proteksi tubuh dari rangsang yang merusak..
-        Sebagai alat komunikasi dengan lingkungannya, sehingga orang dapat membirikan persepsi terhadap lingkungan.
A.    MATA ( INDRA PENGLIHATAN)
Struktur Bola Mata
Dinding bola mata tersusun atas tiga lapisan yaitu sklera (lapisan luar, koroid (tengah), dan retina (lapisan dalam). Struktur bola mata tersusun atas bagian-bagian sebagai berikut:
1.     Sklera (selaput keras)
2.     Kornea (selaput bening)
3.     Konjungtiva
4.     Koroid (selaput pembuluh)
5.     Iris (selaput pelangi)
6.     Puoil
7.     Lensa mata
8.     Retina (selaput jala)
9.     Fovea (bitnik kuning)
10.  Bintik kuning
11.  Saraf optik
12.  Badan siliaris
13.  Ligmen suspernsor
14.  Otot mata
Fungsi Mata
Cahya yang masuk kemata akan melalui bagian-bagian sebagai berikut yaitu kornea → aqueous humor → pupil → lensa → vitreous humor → retina. Di retina, cahaya ditangkap oleh fotoreseptor baik sel batang maupun sel kerucut. Sel batang mengandun pigmen ungu yang disebut rhodopsin (retina/vitamin A dan protein opsin), peka terhadap cahya redup (kurang terang atau gelap), tidak dapat membedakan warna, dan banyak terdapat di luar bitnik kuning. Jika terkena sinar, maka redopsi akan terurai dan terbentuk kembali dalam keadaan gelap. Waktu untuk pembentukan kembali rhodopsin disebut waktu adaptasi gelap (waktu adaptasi rhodopsin) yang berlangsung selama ±20 detik. Jika kekurangan vitamin A, maka pembentukan kembali rodopsi akan terganggu dan menyebabkan rabun senja. Sel kerucut (konus) mengandung pigmen lembaynung yang disebut iodopsin (senyawa retinin dan protein fotopsin), peka terhadap cahaya merah, hijau, dan biru, dan bnyak terdapat dibagian bitnik kuning retina. Kerusakan salah satu sel konus ( merah, hijau, biru) akan menyebabkan buta warna sebagian.
Proses Penglihatan
Cahaya yang ditangkap mata berturut-turut akan melalui bagian-bagia mata berikut yaitu kornea → aqueous humor → pupil → lensa → vitreous humor dan sampai keretina. Cahaya yang sampai keretina akan menyebabkan perubahan potensi listrik (polarisasi membran) di sel fotoreseptor yang disebabkan oleh masuknya ion Na+ ke dalam membrane  sel reseptor dan keluarnya ion K+ dari dalam membran sel reseptor. Perubahan potensial listrik ini disebut depolarasi yang berarti terjadi transmisi implus saraf . Fotoreseptor meneruskan implus saraf ke neuron bipolar melalui sinapsis. Dari neuron bipolar implus saraf  diteruskan ke sel ganglion implus saraf diteruskan ke SSP yaitu otak besar (serebrum) bagian lobus osipitalis (pusat penglihatan) untuk diolah di otak terbentuk sensasi penglihatan. Implus dari mata kanan di hantarkan ke lobus oksipitalis kiri dan di mata kiri ke lobus osipitalis kanan.
Kelainan Mata
1.     Presbiop (mata tua)
2.     Miopi (mata pelihat dekat atau rabun jauh)
3.     Hipermetrop (mata pelihat jauh atau rabun dekat)
4.     Astigmatis
5.     Buta warna
6.     Katarak
7.     Rabun senja
Teknilogi yang berhubungan kelainan pada mata
1.     Teknologi laser
2.     Softlens
3.     Kacamata minus, plus, dan silinder.


B.    TELINGA (INDERA PENDENGANR)
Struktur Telinga
Telinga terdiri atas tiga bagian yaitu :
1.     Telinga luar
2.     Telinga tengah
3.     Telinga dalam
Fungsi Telinga
Telinga mengandung dua macam reseptor yaitu fonoreseptor ( pendengaran ) dan statoreseptor (alat keseimbangan). Pusat pendengaran adalah koklea (rumah siput), sedang pusat keseimbangan adalah labirin (organ vestibularis) yang terdiri atas sakulus, utrikulus, dan kandalis semisirkularis.
Proses Mendengar
Gelombang suara berjalan melintasi saluran telinga dan memukul membran timpani (gendan telinga) sehingga menjadi getaran. Getaran di membrane timpani selanjutnya akan menggetarkan tiga tulang pendengaran yaitu martil (maleus)→ landasan → sanggurdi. Tulang sanggurdi menempel pada koklea di jendela oval ini menjadi pembatas telinga dalam. Tulang sanggurdi menggetarkan jendel oval, getaranya akan mencairkan limfe yang terdapat di dalam koklea(rumah siput), getarannya akan menyebabkan sel-sel rambut sensors yang terdapat didalam organ korti sebagai reseptor pendengaran dan getarannya menyebabkan sel rambut mengalami depolarasi yaitu ion Na+ masuk ion K+ keluar. dengan terjadinya depolarasi di sel rambut tersebut (reseptor pendengaran) berarti terjadi transmisi implus listrik dan diteruskan ke saraf auditorius lalu diteruskan lagi ke SSP yaitu otak besar bagian lobus temporalis untuk diolah dan di otak dibentuk sensasi mendengar.
Mekanisme Kerja Alat Keseimbangan
1.     Siklus dan utrikulus berfungsi mendeteksi gerak linier, sehingga peka terhadap perubahan posisi kepala. Keseimbnganya pada siklus ini berupa sel rambut sensoris
2.     Tiga saluran tengah lingkaran berfungsi mendeteksi gerakan sirkuler, sehingga peka terhadap perubahan gerakan kepala. Reseptornya berupa sel rambut sensoris. Dengan adanya alat keseimbangan dalam telinga, manusia dapat mendeteksi posisi gerakan kepala serta keseimbangan dan koordinasi gerakan kepala, mata, dan tubuh.

C.    Hidung (Indera penghidu/pembau)
Struktur Hidung
Didalam rongga hidung terdapat selaput lendir rongga hidung, dan didalamnya terdapat sel pembau yang merupakan indra penghindu (khemoreseptor) pada sel yang terdapat ujung saraf penghidu. Selanjutnya bergabung membentuk serabut saraf penghidu/pembau yang menuju ke otak.
Proses terjadinya bau
Gas masuk ke hidung larut dalam lendir hihung di bagian atas hidung, ini akan merangsang ujung saraf pembau dan menyebabkan terjadinya depolarisasiI yaitu ion Na+ masuk dan ion K+ keluar dari reseptor ujung saraf pembau. Dengan terjadinya depolarisasi di saraf pembau berarti terjadi trasmisi implus listrik. Implus listrik disteruskan ke serabut saraf olfaktorius serabut saraf olfaktorius implus listrik diteruskan ke SSP yaitu otak besar (serebrum) untuk diolah dan di otak terbentuk sensasi bau.

D.    Lidah (Indera Pengecap)
Struktur lidah
Indera pengecap karena pada lidah terdapat ujung saraf pengecap (sel gustatorius) sebagai reseptor (khemoreseptor) peka terhadap rasa suatu zat terlarut didlam air atau larutan. Ujung saraf pengecap berkumpul membentuk pengecap. Mempunyai kepekaan tersendiri dan terdapat didaerah yang berbeda di lidah. Pengecap hanya mengecap 4 citarasa yaitu asam, manis, asin, pahit. Disamping pada lidah, indera pengecap juga terdapat di langit-langit lunak dan lengkung langit-langit rongga mulut.
Mekanisme terjadi citarasa
Dengan terangsangnya ujung saraf pengecap, terjadi peristiwa depolarisasi pada ujung saraf pengecap yaitu ion Na+ masuk ion K+ keluar dari reseptor ujung saraf pengecap. Dari ujung saraf pengecap implus listrik diteruskan ke saraf kranial (sel gustatorius) dan oleh serabut saraf gustatorius implus listrik disalurkan ke SSP (sistem saraf pusat) yaitu otak besar (serebrum) unuk diolah sehingga terbentuk sensasi citarasa.

E.    KULIT (INDERA PERABA)
Dikulit terdapat dua macam resptor yaitu mekanoreseptor  untuk sentuhan /rabaan, takanan, dan sakit (nyeri) dan thermoreseptor untuk panas dan dingin. Tiap reseptor hanya cocok untuk satu tipe rangsangan saja. Reseptor (ujung sel saraf sensorik) yang terdapat dikulit antara lain :
1.     Korupuskula Pacini
2.     Korpuskula Ruffini
3.     Korpuskula Meissner
4.     Ujung Saraf krausse
5.     Ujung saraf sekeliling rambut
6.     Lempeng (discus)
7.     Ujung saraf telanjang
Mekanisme Kerja indera Peraba
Sensasi tekanan reseptor Korpuskula Pacini akan berubah bentuk. Tekanan yang diterima Korpuskula Pacini akan menyebabkan terjadinya depolarisasi yaitu ion Na masuk ion K keluar dari reseptor. Dari ujung saraf pacini implus listerik diteruskan ke saraf sensori dan oleh saraf sensoris implus listrik diteruskan ke SSP (sistem saraf pusat) yaitu otak besar (serebrum) untuk diolah sehingga terbentuk sensasi tekanan dikulit.