Nama : Ana Maulida
Npm
:
3061324008
Semester : V
(lima)
Mata
Kuliah :
Anatomi Fisiologi Manusia
Dosen
Pengampu : Nana Citrawati Lestari, S.Si, M.Pd
Judul
Buku
: Serasi Biologi
Nama
Penulis :
Solikhin
Tahun
Terbit :
2011
Nama
Penerbit : Solikhin
Kota
Penerbit :
Banjarmasin
Jumlah
total halaman buku : 102 HALAMAN
Jumlah
halaman : 63-68 HALAMAN
Sistem Pengindraan
Sistem
indra berfungsi sebagai penerima rangsangan baik dari dunia luar maupun dari
dalam tubuh. Setiap indra memiliki reseptor ( kumpulan dendrit ) berfungsi
sebagai penerima rangsang. Rangsang (informasi) sampai ke resptor akan diterima
dan diteruskan oleh saraf sensorik ke sistem saraf pusat yaitu otak dalam
bentuk implus listrik. Implus yang sampaik ke otak diolah menjadi sebuah
sensasi, sehingga otak dapat mengenali rangsangan dari lingkungannya ( dari
luar atau dalam tubuh ).
Berdasarkan
hasil rangsng, reseptor dibedakan menjadi dua yaitu eksteroreseptor yang mendeteksi perubahan lingkungan luar dan
interoreseptor yang mendeteksi perubahan lingkungan dalam tubuh misalnya nyeri,
kadar oksegen atau karbondioksida, kadar glukosa, dan sebagainya.
Eksteroreseptor ada lima macam yaitu mata (indra penglihat), telinga
(pendengar), hidung (pembau), kulit (peraba), dan lidah (pengecap). Interoreseptor
terdapat diseluruh tubuh misalnya pada otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding
saluran pencernaan, pernapasan, pembuluh darah, dan sebagainya. Berdasarkan
jenis rangsangan yang diterima, reseptor dibedakan menjadi 6 macam yaitu:
1. Mekanoreseptor
2. Termoreseptor
3. Kemoreseptor
4. Fotoreseptor
5. Statoreseptor
6. Fonoreseptor
Sistem
indra memiliki fungsi :
-
Sebagai alat proteksi tubuh dari rangsang
yang merusak..
-
Sebagai alat komunikasi dengan
lingkungannya, sehingga orang dapat membirikan persepsi terhadap lingkungan.
A.
MATA
( INDRA PENGLIHATAN)
Struktur Bola Mata
Dinding bola mata tersusun atas tiga lapisan yaitu
sklera (lapisan luar, koroid (tengah), dan retina (lapisan dalam). Struktur
bola mata tersusun atas bagian-bagian sebagai berikut:
1. Sklera
(selaput keras)
2. Kornea
(selaput bening)
3. Konjungtiva
4. Koroid
(selaput pembuluh)
5. Iris (selaput
pelangi)
6. Puoil
7. Lensa
mata
8. Retina (selaput
jala)
9. Fovea (bitnik
kuning)
10. Bintik
kuning
11. Saraf
optik
12. Badan
siliaris
13. Ligmen
suspernsor
14. Otot
mata
Fungsi Mata
Cahya yang masuk kemata akan melalui bagian-bagian
sebagai berikut yaitu kornea → aqueous humor → pupil → lensa → vitreous humor →
retina. Di retina, cahaya ditangkap oleh fotoreseptor baik sel batang maupun
sel kerucut. Sel batang mengandun pigmen ungu yang disebut rhodopsin (retina/vitamin A dan protein opsin), peka terhadap cahya
redup (kurang terang atau gelap), tidak dapat membedakan warna, dan banyak
terdapat di luar bitnik kuning. Jika terkena sinar, maka redopsi akan terurai
dan terbentuk kembali dalam keadaan gelap. Waktu untuk pembentukan kembali
rhodopsin disebut waktu adaptasi gelap (waktu adaptasi rhodopsin) yang
berlangsung selama ±20 detik. Jika kekurangan vitamin A, maka pembentukan
kembali rodopsi akan terganggu dan menyebabkan rabun senja. Sel kerucut (konus)
mengandung pigmen lembaynung yang disebut iodopsin
(senyawa retinin dan protein fotopsin), peka terhadap cahaya merah, hijau, dan
biru, dan bnyak terdapat dibagian bitnik kuning retina. Kerusakan salah satu
sel konus ( merah, hijau, biru) akan menyebabkan buta warna sebagian.
Proses Penglihatan
Cahaya yang ditangkap mata berturut-turut akan
melalui bagian-bagia mata berikut yaitu kornea → aqueous humor → pupil → lensa
→ vitreous humor dan sampai keretina. Cahaya yang sampai keretina akan
menyebabkan perubahan potensi listrik (polarisasi membran) di sel fotoreseptor
yang disebabkan oleh masuknya ion Na+ ke dalam membrane sel reseptor dan keluarnya ion K+
dari dalam membran sel reseptor. Perubahan potensial listrik ini disebut
depolarasi yang berarti terjadi transmisi implus saraf . Fotoreseptor
meneruskan implus saraf ke neuron bipolar melalui sinapsis. Dari neuron bipolar
implus saraf diteruskan ke sel ganglion
implus saraf diteruskan ke SSP yaitu otak besar (serebrum) bagian lobus osipitalis (pusat penglihatan)
untuk diolah di otak terbentuk sensasi penglihatan. Implus dari mata kanan di
hantarkan ke lobus oksipitalis kiri dan di mata kiri ke lobus osipitalis kanan.
Kelainan Mata
1. Presbiop
(mata tua)
2. Miopi
(mata pelihat dekat atau rabun jauh)
3. Hipermetrop
(mata pelihat jauh atau rabun dekat)
4. Astigmatis
5. Buta
warna
6. Katarak
7. Rabun
senja
Teknilogi yang berhubungan kelainan
pada mata
1. Teknologi
laser
2. Softlens
3. Kacamata
minus, plus, dan silinder.
B.
TELINGA
(INDERA PENDENGANR)
Struktur Telinga
Telinga
terdiri atas tiga bagian yaitu :
1. Telinga
luar
2. Telinga
tengah
3. Telinga
dalam
Fungsi Telinga
Telinga mengandung dua macam reseptor yaitu
fonoreseptor ( pendengaran ) dan statoreseptor (alat keseimbangan). Pusat
pendengaran adalah koklea (rumah siput), sedang pusat keseimbangan adalah
labirin (organ vestibularis) yang terdiri atas sakulus, utrikulus, dan kandalis
semisirkularis.
Proses Mendengar
Gelombang suara berjalan melintasi saluran telinga
dan memukul membran timpani (gendan telinga) sehingga menjadi getaran. Getaran
di membrane timpani selanjutnya akan menggetarkan tiga tulang pendengaran yaitu
martil (maleus)→ landasan → sanggurdi. Tulang sanggurdi menempel pada koklea di
jendela oval ini menjadi pembatas telinga dalam. Tulang sanggurdi menggetarkan
jendel oval, getaranya akan mencairkan limfe yang terdapat di dalam
koklea(rumah siput), getarannya akan menyebabkan sel-sel rambut sensors yang terdapat didalam organ korti sebagai
reseptor pendengaran dan getarannya menyebabkan sel rambut mengalami depolarasi yaitu ion Na+
masuk ion K+ keluar. dengan terjadinya depolarasi di sel rambut
tersebut (reseptor pendengaran) berarti terjadi transmisi implus listrik dan
diteruskan ke saraf auditorius lalu diteruskan lagi ke SSP yaitu otak besar
bagian lobus temporalis untuk diolah
dan di otak dibentuk sensasi mendengar.
Mekanisme Kerja Alat Keseimbangan
1. Siklus
dan utrikulus berfungsi mendeteksi gerak linier, sehingga peka terhadap
perubahan posisi kepala. Keseimbnganya pada siklus ini berupa sel rambut
sensoris
2. Tiga
saluran tengah lingkaran berfungsi mendeteksi gerakan sirkuler, sehingga peka
terhadap perubahan gerakan kepala. Reseptornya berupa sel rambut sensoris.
Dengan adanya alat keseimbangan dalam telinga, manusia dapat mendeteksi posisi
gerakan kepala serta keseimbangan dan koordinasi gerakan kepala, mata, dan
tubuh.
C.
Hidung
(Indera penghidu/pembau)
Struktur Hidung
Didalam rongga hidung terdapat selaput lendir rongga
hidung, dan didalamnya terdapat sel pembau yang merupakan indra penghindu
(khemoreseptor) pada sel yang terdapat ujung saraf penghidu. Selanjutnya
bergabung membentuk serabut saraf penghidu/pembau yang menuju ke otak.
Proses terjadinya bau
Gas masuk ke hidung larut dalam lendir hihung di
bagian atas hidung, ini akan merangsang ujung saraf pembau dan menyebabkan
terjadinya depolarisasiI yaitu ion Na+
masuk dan ion K+ keluar dari reseptor ujung saraf pembau. Dengan
terjadinya depolarisasi di saraf pembau berarti terjadi trasmisi implus
listrik. Implus listrik disteruskan ke serabut saraf olfaktorius serabut saraf olfaktorius implus listrik
diteruskan ke SSP yaitu otak besar (serebrum) untuk diolah dan di otak
terbentuk sensasi bau.
D.
Lidah
(Indera Pengecap)
Struktur lidah
Indera pengecap karena pada lidah terdapat ujung
saraf pengecap (sel gustatorius)
sebagai reseptor (khemoreseptor) peka
terhadap rasa suatu zat terlarut didlam air atau larutan. Ujung saraf pengecap
berkumpul membentuk pengecap. Mempunyai kepekaan tersendiri dan terdapat
didaerah yang berbeda di lidah. Pengecap hanya mengecap 4 citarasa yaitu asam,
manis, asin, pahit. Disamping pada lidah, indera pengecap juga terdapat di
langit-langit lunak dan lengkung langit-langit rongga mulut.
Mekanisme terjadi citarasa
Dengan terangsangnya ujung saraf pengecap, terjadi
peristiwa depolarisasi pada ujung
saraf pengecap yaitu ion Na+ masuk ion K+ keluar dari
reseptor ujung saraf pengecap. Dari ujung saraf pengecap implus listrik
diteruskan ke saraf kranial (sel
gustatorius) dan oleh serabut saraf gustatorius implus listrik disalurkan
ke SSP (sistem saraf pusat) yaitu otak besar (serebrum) unuk diolah sehingga
terbentuk sensasi citarasa.
E.
KULIT
(INDERA PERABA)
Dikulit terdapat dua macam resptor yaitu mekanoreseptor untuk sentuhan /rabaan, takanan, dan sakit
(nyeri) dan thermoreseptor untuk
panas dan dingin. Tiap reseptor hanya cocok untuk satu tipe rangsangan saja.
Reseptor (ujung sel saraf sensorik) yang terdapat dikulit antara lain :
1. Korupuskula Pacini
2. Korpuskula Ruffini
3. Korpuskula Meissner
4. Ujung Saraf krausse
5. Ujung saraf sekeliling rambut
6. Lempeng (discus)
7. Ujung saraf telanjang
Mekanisme Kerja indera Peraba
Sensasi tekanan reseptor Korpuskula Pacini akan berubah bentuk. Tekanan yang diterima Korpuskula Pacini akan menyebabkan
terjadinya depolarisasi yaitu ion Na
masuk ion K keluar dari reseptor. Dari ujung saraf pacini implus listerik
diteruskan ke saraf sensori dan oleh saraf sensoris implus listrik diteruskan
ke SSP (sistem saraf pusat) yaitu otak besar (serebrum) untuk diolah sehingga
terbentuk sensasi tekanan dikulit.